SLIDER

SELAMAT PEKAN MENYUSUI DUNIA 2020! - menyusui untuk bumi lebih sehat



Selamat pekan menyusui sedunia 2020! Memanggil para emak-emak yang begadang demi nyusuin dan pumping ASI malem-malem, yang putingnya ledes dicokot bayik, yang punggung pinggang tangannya pegel gendong bayi. Semangat! Emak-emak hebat!

Tema pekan menyusui kali ini sangat menarik  buat saya. Saya memang beberapa tahun ini concern dengan isu lingkungan, dan finally, this topic come accross. Breastfeeding for healthier planet. Menyusui untuk bumi yang lebih sehat? 
Mungkin beberapa teman-teman ada yang bingung, kenapa sih menyusui berpengaruh terhadap lingkungan? Maksudnya kaitannya dari mana sih? Kok kayak gak nyambung.
The international theme for WBW 2020 (1-7 August) is Support breastfeeding for a healthier planet. The focus is on the impact of infant feeding on the environment and the imperative to protect, promote and support breastfeeding for the health of the planet and its people. Breastmilk is a natural, renewable food that is produced and delivered to the consumer without pollution, packaging or waste. When we protect and support mothers and breastfeeding, we are also reducing the impact on our air, water and land, protecting our young ones and future generations. Breastfeeding is a sustainable way to feed our infants and young children and provides food security for them in emergencies and climate-related disasters.
sumber: klik di sini
-
Disclaimer dulu ya, saya tidak berintensi mendiskreditkan para ibu yang tidak menyusui ASI anaknya. Saya hanya ingin mendukung breastfeeding week dan aktivitas menyusui. Saya juga tidak melarang minum susu sapi, dan saya serta anak masih minum susu dan turunannya sebagai rekreasional (tidak sebagai konsumsi sehari-hari). Baca postingan ini sampai akhir yaa ;)
-

Sedikit gambaran tentang apa yang saya suka bahas di IG atau di blog ini, yakni tentang lingkungan. Saya suka membahas bagaimana cara kita agar tidak menyumbang sampah ke TPA dan memperburuk pemanasan global, bisa lihat di postingan ini: Memulai Zero Waste Lifestyle.

Nah, seperti kita tahu, alternatif menyusui selain ASI adalah memberikan susu formula, setelah usia 1 tahun, mungkin anak mengkonsumsi susu UHT atau susu pasteurisasi. Susu formula sebagian besar menggunakan susu sapi sebagai "pengantar" yang katanya kaya vitamin dan mineral yang dibutuhkan bayi. Yang perlu diketahui adalah, industru susu sangat tidak ramah lingkungan. Perlu lahan besar untuk membuat peternakan sapi serta memiliki jejak karbon yang sangat besar. Selain itu packaging dari susu formula berkontribusi menyumbang sampah.

ASI sendiri merupakan cairan yang sangat natural, tidak perlu industrialisasi, polusi, kemasan dan limbah. Ya, selain merupakan asupan yang paling sehat untuk bayi,  ASI sangat ramah lingkungan. Untuk itu, ibu menyusui perlu dukungan untuk memberikan ASI, minimal ASI eksklusif 6 bulan, dan jika mampu sampai 2 tahun.

How does breastfeeding help the planet?
Feeding at the breast also reduces waste – from production to feeding, no products are needed, just mom and baby's bodies. Bottles and packaging take energy to manufacture, promote, and recycle. ... Breastfeeding moms do their share in protecting the environment every day, and so do we. (source: medela.us)

DEMAND

Tentu saja produksi besar-besaran susu formula tidak terjadi begitu saja, tapi karena adanya demand yang besar. Masalahnya, demand yang besar terhadap susu selain ASI tersebut tidak datang karena bayi benar-benar butuh susu formula. Seringkali justru lingkungan memojokkan ibu menyusui untuk lebih memilih susu formula daripada ASI. Banyak yang bilang "anaknya kecil karena ASI-nya jelek" lah, ada yang bilang "susu X bagus karena vitaminnya lengkap lah" (pastinya kemakan iklan), dan yang paling sedih adalah, ketidakpercayaan diri dan kurangnya edukasi dari ibu itu sendiri bahwa dirinya bisa memproduksi ASI yang merupakan cairan paling lengkap nutrisi untuk bayi.  Lingkungan dan support system sangat berpengaruh besar untuk keberhasilan menyusui. Sebenarnya yang harus teredukasi bukan hanya ibu tapi juga lingkungan support system ibu, alias semua orang, hehe.

Sekali sudah kenal susu formula karena kegagalan di awal masa menyusui, biasanya lanjut terus sampai setahun, dua tahun, bahkan sampai setelah menyapih pun anak terus menerus dianggap membutuhkan susu. Padahal ada banyak cara kok supaya ibu bisa kembali menyusui, dan tidak semua bayi membutuhkan susu kok selama makanannya bervariasi dan bernutrisi,  serta anak tidak ada kondisi medis tertentu.. 

MENYAPIH dan MPASI

Adapun beberapa ibu yang sudah berhasil menyusui ASI 2 tahun, merasa HARUS memberikan susu tambahan, yang katanya untuk menunjang pertumbuhan. 4 sehat 5 sempurna, sebuah slogan yang kadaluarsa dan entah memangku kepentingan siapa, sampai-sampai gambar susunya ada di tengah dan paling besar. Buktinya, Indonesia juga masih jadi negara dengan angka stunting yang tinggi.
Untungnya slogan tersebut diganti menjadi Isi Piringku yang medorong pemberian makanan menu lengkap dan beragam (susu masuk ke protein). Dengan begitu, harapannya anak Indonesia bisa makan dengan lengkap dari sumber yang bervariasi dan tidak HARUS minum susu. 

Padahal, fungsi menyapih adalah menghentikan pemberian susu karena anak sudah bisa belajar makan dari proses MPASI. Sayangnya pemahaman itu belum diterima oleh masyarakat, hingga sampai dewasa pun manusia masih bergantung dengan susu, jadi kapan tersapihnya ya ? 

Proses belajar makan melalui MPASI juga sama pentingnya dengan menyusui. MPASI juga merupakan proses menyapih lho. Anak perlu belajar makan yang baik, perlu kenaikan tekstur, belajar mengunyah yang tepat, dan berkenalan dengan bervariasi makanan. Kecintaan terhadap makanan asli perlu ditanam di masa MPASI ini. Kebanyakan orangtua tetap memberikan susu setelah menyapih hanya karena "anak gak mau makan" atau gak suka makan, atau makannya pilih-pilih. Hal ini bisa disebabkan karena proses MPASI yang kurang tepat dan bahkan traumatis. Soal makan anak emang paling bikin ibu-ibu ketar ketir sih termasuk saya. Tapi kuncinya memang hanya satu, edukasi dan percaya diri (eh itu dua ya).

Lagi-lagi, perlu kepercayaan diri dari ibu bahwa dirinya bisa membuatkan makanan asli yang sehat dan anak akan menyukainya. Lagi-lagi, butuh dukungan dari lingkungan, untuk tidak mendiskreditkan ibu-ibu yang memasak makanan homemade. Jangan diejek dong kalau masakannya ’kelihatan’ gak enak atau gak sesuai standar, jangan diejek dong kalo gak ngasih susu dibilang gak punya duit. Haduuh andai yang mencemooh seperti itu tahu dampak kalimatnya bagi planet ini.

Begitu terpatrinya sosok susu sebagai cairan yang sangat bernutrisi, bahkan lebih bernutrisi daripada ASI dan tumbuhan ciptaan Tuhan. Kenapa ya,  susu begitu emas di mata sebagian besar orang? Mungkin karena mereka punya iklan dan promosi yang sangat gencar bahkan sampai melanggar kode etik (bisa di klik di sini). Kok bisa? Kode etik apa? Jangan salah, pemasaran susu formula diatur sedemikian rupa, tapi tidak sedemikian kuat, supaya konsumen tetap mendahului ASI daripada susu formula. Tapi kenyataan di lapangan tidak seperti itu. Pemasaran sangat gencar bahkan sampai masuk ke komunitas-komunitas, dan event, yang seharusnya tidak diperbolehkan.


Tentu saja karena industri ini adalah industri yang sangat besar dengan modal dan keuntungan yang sangat besar pula. Padahal nutrisi juga bisa didapatkan dari makanan utuh dan asli, seperti sayur, buah, umbi dan kacang-kacangan.
Mendengar itu pasti orangtua memandang sebelah mata. Kenapa?
Ya karena gak ada yang namanya iklan sayur, gak ada yang namanya iklan ubi, adanya iklan susu. 
Gak ada iklan ASI, adanya iklan susu. Tau kan cara kerja iklan seperti apa? Exposure. Semakin sering tereskposure, semakin kuat alam bawah sadar memilih produk. 

Bagaimana dengan anak yang membutuhkan susu formula?

Ya, susu formula itu diciptakan sebagai life saver, kalau kata DSA nya Afka dulu. Makanya susu formula itu dijual juga di apotek kan yang 24 jam, bukan di kulkas?
Afka dulu minum susu formula ketika Afka masih tongue tie dan benar-benar gak bisa menyusui dari saya sampai dehidrasi (akibat saya juga kurang edukasi). Tapi alhamdulillah, dengan bantuan konselor laktasi, sampai 5 kali bolak balik, saya bisa menyusui kembali, InsyaAllah sampai 2 tahun. Bahkan biaya sekali ke konselor laktasi gak se-mahal beli susu formula 1 bulan.


Ada 1001 cara untuk kembali menyusui, dan hanya 3% ibu yang benar-benar tidak bisa menyusui karena kondisi medis (seperti anatomi payudara abnormal, kanker, dll). Bahkan ibu adopsi saja bisa menyusui lho, coba baca di buku Anti Stress Menyusui dokter Astri Praborini, atau di sini. Bayangkan, gimana caranya bisa menyusui tanpa pernah hamil? 

Bersyukurlah, karena ibu yang bisa hamil sebenarnya sudah dapat privilage yang tinggi sekali untuk berhasil menyusui. Bahkan ketika ada yang mengalami "ASI berhenti" di tengah jalan, masih bisa kok menyusui bahkan di usia anak 1 tahun lebih, karena ada yang namanya relaktasi. Tidak ada kata terlambat, bayi masih bisa mendapatkan manfaat ASI. Sekarang konselor laktasi sudah tersebar hampir ke seluruh Indonesia, bahkan di Indonesia juga sudah mulai dibangun bank ASI di Indonesia.

Tentu saja, semua ini tergantung dengan pilihan masing-masing ibu. Untuk yang belum berkesempatan menyusui, mohon jangan berkecil hati. Pasti sudah banyak tenaga dan usaha yang dikeluarkan, teman-teman bisa mendukung ibu-ibu yang lain, atau yang baru lahiran untuk menyusui. Caranya misalnya kasih edukasi atau berikan buku edukasi menyusui untuk kado lahiran, tambahin juga alat-alat menyusui kayak apron, pompa ASI, booster ASI dan lainnya. Kalau bisa jangan ujug2 kadoin susu formula ya :( hehe.

Ibu Wiryani Pambudi, beliau tidak pernah menyusui anaknya tapi jadi konselor menyusui dan mengedukasi banyak calon konselor laktasi. Mak @olevelove, anak pertamanya gak ASI eksklusif, tapi sekarang jadi icon tetegram alias selebgram ASI di Instagram dan penulis buku ASI. No sewot sewot club, no perang ASI vs sufor. Karena beliau-beliau ini tau manfaat ASI dan manfaatnya untuk masa depan dan lingkungan.

Semangat terus ya para ibu di luar sana. Semoga bisa memberi semangat untuk terus bisa menyusui di pekan menyusui dunia ini!
Breastfeeding is not a choice, it's a responsibility - The Fresh Quote

No comments

Post a Comment

© Catatan Ibun | Parenting and Mindful Living • Theme by Maira G.