SLIDER

PENGALAMAN SELAMA SATU MINGGU ZERO WASTE pt. 1




Selama satu minggu ini saya telah mencoba gaya hidup Zero Waste. Susah? Iya! Mudah? Iya juga!. Jadi ini semacam love-hate relationship. Zero waste adalah proses yang sangat panjang. Minggu ini, pastinya saya belum bisa menjalankan 100% Zero Waste. Kenapa begitu?

Pertama, saya belum bisa membuat kompos untuk mengolah sampah organik. Namun, saya mulai membiasakan memilah sampah di rumah saya. Sampah organik sekarang saya pisahkan ke tempat sampah sendiri. Wadahnya masih menggunakan kantung plastik, karena tukang sampah hanya mau menerima sampah berkantung. Biasanya, karena tempat sampah bercampur dengan sampah lain dan sampah plastik, tempat sampah jadi cepat penuh, sehingga satu hari bisa menyetor 1 plastik. Bayangkan 1 minggu = 7 kantung plastik. Dengan kebiasaan baru memilah sampah, saya amazed, jika tempat sampah hanya berisi sampah organik, tempat sampah sekecil 5L pun bisa muat sampah organik sampai 3 hari (itupun masih berongga dan ingin segera dibuang karena mulai bau). Bayangkan jika semua jadi kompos? = 0 (nol) kantung plastik. (aamiin)


Kedua, saya masih banyak mengumpulkan sampah tisu. Hal ini karena saya belum punya banyak stok lap kain sebagai pengganti tisu. Namun, karena kebiasaan baru saya memilah sampah, sayapun amazed karena dalam satu minggu, sampah tisu bisa muat dalam satu kotak sampah 5L dan tidak bau. Hal ini karena absennya sampah plastik yang membuat penuh tempat sampah dan juga absen sampah organik yang membuat tisu menjadi basah dan bau. Minggu ini saya belum menyetor kantung sampah tisu ke tukang sampah karena saya rasa masih bisa diisi dan tempat sampahnya pun tidak bau :)

Ketiga, saya masih menggunakan gaya hidup lama sehingga saya masih banyak membeli produk kemasan. Cukup sulit meninggalkan kebiasaan "jajan" seperti snack, yoghurt dan makanan kemasan. Jadinya, walaupun saya sudah memilah sampah organik dan anorganik, sampah plastik dan kemasan masih bertumpuk dalam satu kardus. Nah, sepengalaman saya ini, untuk mengumpulkan sampah tersebut, kondisinya harus bersih, jadi bayangkan jika ada plastik bekas bungkus makanan yang berminyak, harus saya cuci dahulu selayaknya piring, dan saya jemur. Belum lagi yang plastiknya kecilkayak sambal sachet, snack kucing, potek-an bungkus, dll. PR banget! Dari pengalaman itu, saya berpikir memang lebih baik menolak daripada menerima tapi harus membersihkan seribet itu. Untuk plastik yang saya yakin tidak bisa direcycle misalnya rusak atau terlalu kecil, saya coba masukkan ke botol plastik bekas untuk dijadikan Eco Brick.


Eco Brick (img source)

Dari hasil pengalaman saya satu minggu, kira-kira inilah kesimpulan sampah yang berhasil saya pilah:
  • Sampah organik --> 3 bungkus plastik dalam seminggu (sudah dibuang)
  • Sampah tisu (anorganik) --> 1 bungkus plastik dalam seminggu (belum dibuang krn masih muat)
  • Sampah plastik dan kemasan (yang kira2 bisa direcycle)--> dibersihkan, dipilah dalam 1 kardus untuk disetor ke Bank Sampah)
  • Sampah plastik non-recycle --> dibersihkan, dipotong kecil-kecil dijadikan Eco Brick (saat ini baru 1 botol air mineral 600ml belum penuh)
  • Sampah kecil2 non-plastik non-recycle --> dikumpulkan dalam botol kaca (ini seperti contoh mason jar milik Lauren Singer)
  • Sampah baterai --> dikumpulkan terpisah (jika sudah banyak akan disetor ke agen Electronic Waste)
  • Minyak jelantah --> dikumpulkan dalam botol minyak bekas (jika sudah penuh dikirim ke agen upcycle minyak jelantah menjadi diesel ramah lingkungan)
Ternyata sampai seprintil itu kategori sampah, dan masih seminim itu pengetahuan saya tentang kategori sampah dan cara pengolahannya. Tapi tetap, sampahku adalah tanggung jawabku. Walau terasa sepele, walau terasa "ah hanya sampah kecil", ternyata dampaknya besar. Kenapa? karena yang melakukan ada 8 milyar orang di Bumi ini. Bayangkan jika satu individu membuang 5 kg sampah setiap harinya, berapa ton sampah yag dihasilkan dalam satu tahun dikali jumlah penduduk? Jika kita, satu orang, bisa mengurangi sampah menjadi 0, kita akan merubah statistik sampah pertahun yang diproduksi. Minimal kita tidak menyumbang gunung TPA dan ombak sampah di laut.

It's only one straw, said 8 billion of people on earth - anonym

Apakah teman-teman pembaca yang sudah memulai zero waste mengalami kesulitan? Share yuk pengalaman memulai zero waste dan sampah apa saja yang sudah dipilah!

No comments

Post a Comment

© Catatan Ibun | Parenting and Mindful Living • Theme by Maira G.