SLIDER

GIMANA YA KALAU ANAK MELIHAT "SESUATU"?

Sunday, 29 September 2019



Kalau kenal saya pasti tau dari dulu saya suka banget nonton film horror dan thriller. Apalagi pas udah kuliah, bahkan saat hamil pun saya masih suka nonton horror. Bangga banget kalo lagi nonton bareng keluarga, pokoknya jadi yang paling berani deh.

Dari kecil saya tidak pernah memiliki pengalaman mistis, apalagi sampai melihat jin / hantu seperti yang beberapa orang alami. Ya paling hanya hal hal kecil yang bisa dirasionalkan sebagai kejadian alami (science). Di keluargs saya ga pernah ada yang mengalami hal begitu, ga ada keturunan yang "bisa ngeliat". Mungkin ada sih satu dua, tapi mereka ga pernah cerita soal kemampuan ataupun pengalaman mistisnya kepada kami. Makanya saya berani menonton film film seram itu meski sendirian.

Nah mulai deh, habis nikah dan mengenal suami, mertua saya suka cerita kalau dulu waktu kecil suami saya pernah melihat sesuatu lah gitu, dan kejadiannya tidak hanya sekali. Suami saya pun pernah "dibukakan" mata batinnya dan "diperlihatkan" sekilas, lalu ditutup kembali. Dan sampai sekarang kemampuan itupun sudah hilang. Ditambah, adik, ibu dan ya pokoknya ada keturunan lah dalam kemampuan melihat seperti itu.

Nah, yang saya khawatirkan adalah, gimana kalau nanti anak saya juga bisa kayak Akang? Apa saya takut? Gimana nanti sikap saya yang seharusnya? Harus apa?
Haha. (Tertawa miris)

Saat babyA udah lahir, sayapun belum mulai lagi menonton film horror (kalau thriller mungkin sering dengan suami saya). Selain karena saya 24 jam dengan anak, dan sulit untuk punya waktu nonton film, saya udah ga terlalu berani menontonnya karena sehari2 saya hanya berdua dengan anak saya, hahaha (tertawa miris lagi).

Terkadang saya bergidik, apabila anak saya yang masih bayi ini terpaku melihat ke pojok ruangan yang polos, apalagi sambil tersenyum, haha. Belum lagi baru-baru ini dia pernah tepuk tangan ke ruang kosong, lalu tiba2 menangis kencang sampai saya kaget haha (ketawa mirisnya makin menjadi).

Haduh.

Saya tau sih anak bayi itu masih sensitif untuk bisa melihat hal-hal seperti itu. Tapi, apakah itu akan hilang dengan cepat, atau saya harus ngalamin dulu kepanikan ketika dia melihat sesuatu?

Mulai ciut deh wkw.

Apakah babyA akan mengalami seperti suami saya waktu kecil? Gimana nanti kalau udah bisa ngomong ya, apakah bakal ada hal2 aneh yang bikin saya gemeteran?

Asli, please cariin saya ART yang bisa nemenin di rumah sebelum anak saya bisa nunjuk dan ngomong :")

Gimana dengan teman-teman pembaca? Apakah pernah punya kejadian "mistis" bersama anak kecil? hehe

GIMANA SIH RASANYA PUNYA ANAK?

Thursday, 26 September 2019



Saya pikir, setelah saya menikah itu hidup saya akan berubah. Saat itu, delapan bulan belum dikaruniai anak, ternyata tidak begitu banyak perubahan yang terjadi, tidak ada apa-apanya. Lol, no offense to my husband.

Karena, hidup saya baru benar-benar berubah ketika sudah punya anak. I mean, i never changed this much. Mulai dari perilaku, kebiasaan, bahkan perasaan. Waktu baru nikah, ok rasanya seperti new life, new responsibility. Tapi bagi saya kayak, yaudah ngekos bareng orang lain gitu (karena saya dulu emang ngekos bareng suami), i have to share everything, share bed, budget, responsibility, etc. Tapi, saya baru sadar, saya baru paham bagaimana makna Responsibility, setelah punya anak.

Waktu baru nikah, iya sih rasanya cinta banget sama suami, but that's it. Tapi ketika punya anak, rasanya melebihi cinta. I would die for love, tapi saya ga akan mati untuk suami saya sih (lol, no offense again, beb), tapi ketika lihat anak saya, oh God, i really would die for him. Romeo and Julliet are bullsh**, there's no love like that. Saya baru paham bagaimana yang namanya Love.

Saya mengerahkan semua pikiran, tenaga, dan perasaan untuk anak saya. Semua kegembiraan, kekhawatiran, sayang, sebal, semua karena anak saya. Pilihan baju saya, pilihan makanan, pilihan furnitur, pilihan film, bahkan pilihan jam tidur, semua untuk anak. Saya bisa egois terhadap suami saya tapi saya ga bisa (atau gak boleh ya) egois terhadap anak saya.

My life changed, my parents changed, my friends changed, even my privilages changed
Tidak pernah ada perubahan sebesar ini di dalam hidup saya. And that's kinda freaks me out.

Membuat saya berpikir, sebenarnya seluruh hidup kita ini untuk anak, ya gak sih? Meskipun kita belum punya anak.
Dari kecil kita disuruh sekolah agar bisa kerja dan menghidupi anak dengan layak.
Saat menikah, bukannya ditanya kabar malah ditanya anaknya mana alias "udah hamil belom?"
Abis punya anak, ya wis, bahkan eksistensi kita kalah sama eksistensi anakmu yang baru lahir ke dunia. Bahasan tentang anak akan lebih panjang daripada soal kabar kita.

Kadang saya iri sama anak-anak. Apa coba kontribusi mereka di dunia ini, tapi semua orang begitu sayang dan peduli dengan mereka, bahkan saat mereka belum ada di dunia?

SIAPA ITU KONSELOR LAKTASI?

Friday, 6 September 2019

 
Pernah dengar siapa itu konselor laktasi? Mungkin untuk

ibu saya, mertua, dan tante-tante saya tidak tahu apa atau siapa yang disebut konselor laktasi. Saya pun, baru tau mengenai profesi ini saat hamil, saat mengikuti kelas laktasi. Ternyata konselor laktasi ini berperan penting sekali bagi keberhasilan ibu menyusui, termasuk saya sendiri.

Konselor laktasi merupakan orang yang mengambil sekolah/pelatihan khusus/kursus mengenai laktasi alias per-ASI-an. Secara internasional, ada gelar resminya yaitu IBCLC atau International Board Certificate Lactation Consultant. Namun sekarang ini banyak juga pelatihan tersertifikasi untuk menjadi konselor laktasi (paling tidak untuk menjadi konselor lokal).

Nah ternyata peran konselor laktasi dimulai dari kehamilan lho!

(buku Anti Stress Menyusui)

Di buku Anti Stress Menyusui, terdapat 7 kontak untuk bertemu dan berkonsultasi dengan konselor laktasi. Dengan tujuh kali kontak ini diharapkan dapat membantu keberhasilan ASI eksklusif.

Jadi, konselor laktasi itu siapa? Apakah sama dengan dokter anak?

Sepengetahuan saya, ada beberapa macam orang yang menjadi konselor laktasi, ada yang orang dengan latar belakang medis dan non-medis. Ini saya jabarkan berdasarkan pengalaman saya ya, mohon dicatat kalau saya ini awam bukan tenaga medis atau profesional, penjelasan ini sebagai gambaran saja bahwa ada beberapa konselor laktasi yang saya tahu dan beberapa pernah saya datangi.

> Dokter Umum (Medis)

Konselor laktasi yang merupakan dokter umum ini menurut saya yang paling sering ada di Indonesia, atau paling tidak yang banyak saya tahu. Dokter ini tidak mengambil spesialis anak atau spesialis lainnya, tapi punya gelar IBCLC atau sertifikasi laktasi lain. Saya sendiri paling sering ke dokter ini, namanya dokter Stella. Beliau punya gelar dokter dan M.Sc. dan juga IBCLC, beliau ada di poli laktasi di suatu RS di Bandung. Selain dokter Stella ada juga dokter seperti dokter Ratih, dokter Regia, dokter Risya, dan beberapa dokter lain dalam timnya (beliau-beliau ini saya tahu dari Instagram dan teman saya, dan mereka juga suka mengedukasi ASI – MPASI melalui instagramnya.

> Dokter Spesialis Anak (Medis)

Nah, ada dokter yang sudah mengambil spesialis anak yang juga merupakan konselor laktasi lho. Dokter ini bergelar IBCLC. Biasanya, dokter ini ngantrinya panjaaang, alias laku berat haha. Soalnya enak, bisa sekalian check up anak dan juga bisa konsultasi laktasi jika ada masalah. Contohnya dokter Frecilia, dokter Asti Praborini, pasti pernah dengar namanya hehe.

Ohiya, ada juga lho yang sudah sub-spesialis anak. Saya pernah mendatangi satu dokter yang sudah cukup umur, dokter spesialis anak sub-spesialis rahasia, (haha maaf soalnya pasti gampang dapet namanya karena dokter subspesialis kan dikit). Saya tidak sebut karena saya masih kurang tau gelar beliau entah IBCLC atau bukan. Tapi beliau memang praktek di poli laktasi rumah sakit lain, nah di RS tempat saya konsultasi beliau hanya praktek dr. SpA saja. Tapi beliau yang pertama kali mengajari saya pumping di saat baby A kehausan gak bisa nyusu, duh kalo diinget-inget sedih hehe.

> Bidan

Saya juga pernah dibantu oleh bidan dari tempat saya lahiran. Beliau sih bukan IBCLC, namun katanya pernah ikut pelatihan laktasi dari WHO. Nah menurut saya bedanya adalah, bidan ini tidak bisa memberikan tindakan medis seperti insisi tongue tie, memberikan resep obat dsb. Plusnya adalah, banyak jasa yang bisa ditawarkan oleh bidan ini, misalnya pijat laktasi, atau breast care alias pijat payudara untuk memperlancar ASI. Selain itu, juga bisa konsultasi biasa seperti tentang cara menyusui yang benar.

> Umum (Non Medis)

Sekarang ini ada beberapa lembaga yang menyediakan pelatihan menjadi konselor laktasi di Indonesia seperti Perinasia. Sehingga orang umum yang tidak berlatar belakang medis juga bisa menjadi konselor laktasi dan membantu para ibu untuk menyusui. Bahkan, karena sekarang zamannya ibu millennial, mencari ilmu menyusui bisa di Instagram aja, hehe contohnya lihat IG mak @olevelove , selebgram ASI (alias Tete-gram) yang juga seorang konselor laktasi yang suka mengedukasi dan berbagi pengalaman di Instagram. Menurut saya konselor laktasi yang umum seperti ini memang tidak bisa melakukan tindakan medis dan meresepkan obat, tapi bisa membantu memperluas edukasi mengenai ASI. Buktinya sekarang banyak sekali ibu-ibu yang lulus ASI eksklusif berbekal baca di Instagram aja. Hebat ya!

Memang belum semua kota memiliki dokter konselor laktasi, tapi ada beberapa orang umum yang mengambil pelatihan konselor laktasi di kota-kota yang belum ada dokter konselor laktasi, sehingga edukasi ASI bisa tersebar di banyak kota (dan juga sosial media!),

Bedanya apa sih dengan dokter anak?

Nah kalau dokter anak itu, pasiennya adalah anak. Kalau masuk ke dokter anak, yang ditanya itu anaknya ada keluhan apa, berapa berat badan anaknya, anaknya ASI atau sufor? Dokter anak gak peduli ibunya e-ping (exclusive pumping), pake nipple shield, atau nyusu langsung. Dokter anak juga gak perlu tau ibunya punya puting mendelep apa engga, yang penting berat badan anaknya sesuai perkembangan.

Kalau konselor laktasi itu, sang ibu adalah pasiennya. Waktu saya daftar ke poli laktasi, kan ditanya tanggal lahir, saya sempat bingung lalu malah menjawab tanggal lahir anak saya hahaha. Terus mbak registrsasinya kayak bingung gitu, kenapa lahirnya 2018. Ternyata pasiennya saya toh, akhirnya saya jawab ulang dengan tahun lahir saya. Di konselor laktasi itu ibu benar-benar “dibedah”, cara menyusuinya, anatomi payudaranya, dan juga bentuk mulut anaknya sehingga tau permasalahan menyusuinya.

Menurut saya, sulit sekali berkonsultasi spesifik tentang menyusui dengan dokter anak yang bukan konselor laktasi. Pernah saya ke dokter anak perempuan, meminta bantuan cara menyusui, dilihat cara menyusuinya, tapi yaa sarannya gitu-gitu aja: ibu jangan tegang; coba lagi; ulang lagi. Apalagi kalo ke dokter laki-laki! Gimana yaa soalnya menyusui itu kan privilage perempuan ya haha. Tapi jujur preferensi dokter anak favoritku itu sebenarnya yang laki-laki, tapi, mana bisaaa nanya soal per-tete-an ke dokter cowok. Ga mungkin banget suruh buka-bukaan lihat cara menyusui hehehe. Jadi wajar sih konselor laktasi itu pasti cewek (sejauh ini belum pernah liat konselor laktasi laki-laki).

Konselor laktasi itu, buat ibu yang mau bisa menyusui anaknya, dengan ASI. Jadi terkait ibu ASI atau sufor, ya di konselor laktasi bahas ASI aja kecuali mau lepas sufor. Gak ada perdebatan ASI vs. sufor karena pasti "pro ASI" dan mengutamakan pemberian ASI.

Apa aja yang dilakukan dengan Konselor Laktasi?

Banyak sekali yang saya dapatkan selama berkonsultasi dengan konselor laktasi. Awalnya saya tau cara memompa ASI yang benar, menggunakan pompa elektrik. Kemudian saya jadi tau bahwa anak saya punya tongue tie, dan dagu yang agak kecil sehingga kesulitan menyusui, saya juga tau kalau saya flat nipple, dan perlu posisi menyusui yang pas bagi saya dan anak agar bisa menyusui dengan baik (saya hanya cocok posisi menyusui football dan cross craddle). Kemudian saya juga diberikan suplemen laktasi untuk menambah produksi ASI (yang tujuannya mempermudah bayi menyusu).

Jujur saya jadi PD banget menyusui setelah bolak-balik ke konselor laktasi. Kalau dihitung sepertinya 4-5 kali, bahkan yang terakhir itu semacam self-reassurance aja kalau saya sudah benar-benar bisa menyusui (karena saya dulu memang se-down itu kepercayaan dirinya perihal menyusui). Saya dulu waktu hamil belum baca mengenai tujuh kontak laktasi. Dulu rencananya saya ingin ke konselor laktasi usia 37 minggu ke atas, tapi ternyata anak saya sudah brojol duluan tepat memasukki 37 minggu, haha. Masalahnya, saya ini ternyata punya flat nipple yang harusnya bisa dideteksi sebelum melahirkan (tapi saya dulu merasa normal-normal saja), ternyata ini yang hampir menggagalkan proses menyusui saya. Jadi, sampai sekarang saya selalu menyarankan kepada teman-teman saya yang sedang hamil untuk mendatangi konselor laktasi sebelum melahirkan.

Anyway, menurut saya yang paling berjasa di perjalanan menyusui saya adalah suami saya, karena banyak alasan (I LOVE YOU BEB). Tapi, konselor laktasi juga SANGAT berjasa, sehingga alhamdulillah saya bisa full ASI sampai sekarang. 15 months and still going!

Saya percaya semua ibu bisa menyusui anaknya ASI, tapi memang tidak semua orang punya privilage untuk mendapatkan bantuan dan ilmu untuk melakukannya. But if you do have, or feel like having the privilage, untuk bisa browsing ilmu, untuk bisa ke poli laktasi, untuk bisa beli pompa ASI, you can do your best!
Breastfeeding is 90% determination, and 10% milk production.                                          - facebook/lactationconnection 


© Catatan Ibun | Parenting and Mindful Living • Theme by Maira G.