SLIDER

DULU KULIAH PSIKOLOGI, AKU BELAJAR APA YA?


Dulu saya pilih kuliah psikologi itu bukan karena apa-apa. Saya tidak memikirkan untuk jadi psikolog atau apa, tapi saya sangat tertarik dengan kuliah ini. Dulu psikologi UI itu masuknya ke IPS padahal saya anak IPA. Jadi dulu waktu SNMPTN saya pilih IPC alias campuran. Kalau dipikir-pikir, kenapa ya waktu itu mau masuk psikologi?

Tiga alasan yang paling utama dari anak-anak psikologi itu, antara memang pilihan pertama, "terdampar" alias pilihan kedua, atau kalo bercandaannya orang: berobat jalan. hehehehehe

Setelah dipikir-pikir, ya mungkin saja ada sedikit keinginan saya belajarfpsikologi atas dasar rasa penasaran saya terhadap diri saya sendiri. Karena seujujurnya i was really lost, saya bahkan saat mau SNMPTN sebingung itu mau pilih jurusan kuliah apa. Bisa dibilang saya dulu tidak punya cita-cita. Well, kalau boleh jujur saya dulu ingin jadi penyanyi dan dubber hahaha, tapi ya gatau kenapa saya merasa hal itu tidak mungkin, so like everyone else, saya tetap mengikuti sistem. Pilih jurusan kuliah di universitas negeri supaya membanggakan.

Tapi saya tidak menyesal sama sekali kuliah di jurusan psikologi. Malah merasa cocok sekali. Ada beberapa hal penting dan menurut saya life-changing (bagi saya) setelah kuliah psikologi. Pertama, saya belajar mindfulness (dalam hal apapun). Kedua, saya belajar untuk lebih empati. Singkatnya, empati adalah kemampuan untuk memahami orang lain.

Setelah kuliah psikologi, sekarang saya jadi orang yang overthinking *laaah*. Hahaha overthinkingnya ambil yang baik deh ya. Jadi, sejak saya kuliah psikologi, saya tidak lagi melihat perilaku seseorang dari satu perspektif saja. Misalkan ada orang yang menyebalkan menurut saya, kalau mungkin dulu saya bakal langsung benci aja lah, tapi saya sekarang jadi melihat pintu pintu kemungkinan yang bisa menyebabkan orang itu melakukan perilaku tersebut.

Mungkin saja dia lagi lelah, mungkin saja dia memiliki trauma masa lalu, mungkin saja dia hanya memakai 'topeng', mungkin saja dia habis berbicara dengan orang yang menyebalkan juga dan jadi terbawa. Atau mungkin itu hanya persepsi saya, orang lain belum tentu menganggap dia juga menyebalkan. Overthinking banget ya haha.

Mungkin, efeknya ke saya adalah, saya tidak lagi mudah men-judge orang lain. Kemudian, saya juga bisa lebih menoleransi orang lain terhadap perilakunya, dan akhirnya saya jadi lebih mudah untuk memaafkan orang lain.

Waktu kuliah psikologi, saya punya tugas untuk membuat makalah tentang diri sendiri. Analisis diri sendiri dengan teori berdasarkan perjalanan hidup saya. Dari situ saya sadar bahwa saya tidak terlalu menyukai ibu saya dalam hal parenting, dan saya banyak menyalahkan pola asuh dari kedua orangtua saya. 

Namun, semakin dewasa apalagi sejak punya anak, saya semakin sadar, mungkin saja ibu saya juga memiliki pengalaman yang kurang menyenangkan dengan orangtuanya dulu. Meskipun kalau main ke rumah "eyang", saya merasa tidak ada yang perlu dipertanyakan karena eyang baik banget. Tapi berdasarkan kepribadian ibu saya, saya meragukan hal itu. Terkadang juga ibu saya juga keceplosan mengenai pola pengasuhan yang eyang berikan dulu. Sok tau atau ovethinking ya? hmm.

Mungkin overthinking boleh saja, tapi menurut saya harus selalu ada batasannya. Saya batasi pemikiran saya sampai situ saja. Tidak perlu berlarut-larut menggali dan memutar otak terhadap apa yang terjadi. Tetapi dari situ saya jadi cukup mengenal orangtua saya. Dari situ pula saya jadi mudah mentoleransi perilaku orangtua saya, dan bahkan mungkin memaafkannya. Ohiya ini bukan dalam konteks saya sedang marah-marahan pundung-pundungan dengan orangtua lalu baikan gitu ya, tapi memaafkan dari segala yang mereka lakukan yang efeknya berdampak kepada saya, pada kepribadian saya, sikap saya, status mental saya.

Dalam Islam pun, kita diwajibkan hormat dengan orangtua, sekalipun oangtua kita itu adalah orang yang mungkin buruk ya, (tapi ya orangtua saya tidak buruk). Tapi mungkin berdasarkan keyakinan dan idealisme saya yang cetek ini, menurut saya parentingnya kurang ideal, dan kadang saya membenci "outcome" yang mereka hasilkan, ya saya terkadang membenci diri saya sendiri.

Mungkin orang sekarang bilangnya Toxic Parents ya, tapi aduh hidup saya terlalu banyak privilege dan gak sampai hati bilang mereka toxic parents. Kalau mau, jangan sampai kita sendiri yang menjadi toxic parents. Kalau merasa orangtuanya dulu tidak ideal pengasuhannya, kita coba aja perbaiki yuk. Meskipun kita memiliki luka-luka batin pengasuhan, meski itu sengaja atau tidak sengaja oleh orangtua, tapi kita bisa memilih untuk memaafkan. 

Memang katanya pola pengasuhan itu pasti diturunkan ke kita tanpa sadar. Tanpa sadar kita menyerap metode pola asuh kita dari orangtua kita. Tapi katanya sih kita bisa memutus rantai parenting (yang mungkin dirasa kurang ideal) jika kita bisa lebih mindful dan terus belajar. Katanya..

Nah, ini yang saya ingin coba benahi juga, karena viola, now i'm a parent too. Saya juga sadar sekali sekarang kalau saya merespon ke anak saya itu gaya-gayanya kayak orangtua saya dulu, khususnya ibu saya sih. And i don't like it! Mungkin dari situ saya jadi gencar banget baca-baca buku parenting. Tapi memang tidak semudah itu mengubah pola asuh. Namanya praktek itu memang tidak semudah teori!

Mungkin juga walaupun saya sudah berhasil mengubah, nanti anak-anak saya juga tidak puas terhadap parenting saya, ya bisa jadi juga. Maka dari itu sepertinya saya butuh goal saja yang realistis. Minimal goal saya tercapai, meskipun yang menjadi goal saya bukanlah goal anak-anak saya nantinya terhadap cucu-cucu saya. *gilee overthinking banget wwkw* 

Saya juga masih belajar tentang hal ini sih, karena punya dua anak itu ternyata perlu mindfulness yang super lebih. Plus cinta yang lebih juga. Tetapi kita tidak bisa memberikan cinta apabila kita sendiri belum selesai untuk bisa mencintai diri sendiri. Tapi ternyata mencintai diri sendiri itu ternyata tidak semudah tulisannya ya. *eh curhat*

So maybe, this is my first self-love journey?

"Whatever happened to you, be a survivor not a victim."

No comments

Post a Comment

© Catatan Ibun | Parenting and Mindful Living • Theme by Maira G.